pregnancy & baby Panduan

Memahami Infertilitas

Apakah Hormon Pertumbuhan dan DHEA Membantu pada Cadangan Ovarium yang Menurun?

Penurunan cadangan ovarium dan potensi reproduksi akibat bertambahnya usia merupakan salah satu masalah yang lebih sulit ditangani dalam perawatan fertilitas.

Seiring bertambahnya usia, jumlah folikel yang tersisa semakin berkurang dan perubahan kualitas sel telur akibat usia juga semakin sering terjadi. Akibatnya, peluang kehamilan umumnya menurun sementara risiko keguguran meningkat.

Saat ini, belum ada terapi yang terbukti dapat mengembalikan cadangan ovarium yang telah menurun atau membuat ovarium menjadi “lebih muda”.

Namun, berbagai terapi tambahan telah diteliti untuk mencoba memperbaiki respons ovarium dan hasil IVF pada wanita yang memberikan respons rendah terhadap stimulasi ovarium. Dua di antaranya adalah growth hormone (GH) dan DHEA.

1) Growth hormone (GH)

Growth hormone terutama dikenal karena perannya dalam pertumbuhan dan metabolisme. Hormon ini juga telah dipelajari sebagai terapi tambahan selama stimulasi ovarium dalam program IVF, terutama pada wanita dengan respons ovarium rendah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa GH mungkin sedikit meningkatkan jumlah sel telur yang diperoleh atau angka kehamilan klinis.

Namun, bukti bahwa GH meningkatkan angka kelahiran hidup masih belum pasti, dan pedoman internasional saat ini tidak merekomendasikan penggunaannya secara rutin pada wanita dengan respons ovarium rendah.

GH tidak dapat mengembalikan cadangan ovarium atau membalikkan perubahan kualitas sel telur akibat usia.

Jika dipertimbangkan sebagai bagian dari IVF, manfaat, risiko, dosis, dan waktu penggunaan perlu dibahas secara individual dengan dokter spesialis fertilitas.

2) DHEA

DHEA merupakan singkatan dari dehydroepiandrosterone, hormon androgen yang secara alami diproduksi tubuh dan menjadi prekursor untuk pembentukan hormon lain seperti testosteron dan estrogen.

Karena aktivitas androgen dapat berperan dalam perkembangan awal folikel, DHEA telah dipelajari pada wanita dengan cadangan ovarium menurun atau respons rendah terhadap stimulasi ovarium.

Beberapa penelitian kecil sebelumnya menunjukkan kemungkinan manfaat. Namun, bukti terbaru menunjukkan bahwa DHEA kemungkinan hanya memberikan sedikit atau tidak memberikan perbedaan terhadap angka kelahiran hidup atau kehamilan berkelanjutan pada wanita dengan respons IVF yang rendah.

Karena itu, DHEA belum dapat dianggap sebagai terapi yang terbukti meningkatkan cadangan ovarium atau kualitas sel telur.

DHEA juga dapat menyebabkan efek samping terkait androgen seperti jerawat, kulit berminyak, atau pertumbuhan rambut berlebih.

Apakah sebaiknya menggunakan GH atau DHEA?

Keduanya bukan terapi yang dapat membalikkan penuaan ovarium.

Pada pasien tertentu, dokter dapat mempertimbangkannya sebagai terapi tambahan, tetapi manfaatnya masih belum pasti dan penggunaan rutin tidak direkomendasikan.

Jika cadangan ovarium menurun, lebih penting untuk mendiskusikan strategi fertilitas secara keseluruhan—termasuk usia, cadangan ovarium, respons terhadap terapi sebelumnya, dan waktu pengobatan—daripada menunda perawatan sambil menunggu suplemen memperbaiki fungsi ovarium.